MAKALAH MATA
KULIAH
STUDI AL –
QUR’AN
PERKEMBANGAN BENTUK TULISAN AL – QUR’AN
DOSEN PENGAJAR:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Ati’
Nursyafa’ah, M.Kom.I.
DISUSUN OLEH:
AHADA AHMAD
DAFFA
NIM: B95219084
PROGRAM STUDI
ILMU KOMUNIKASI
SURABAYA 2019
KATA
PENGANTAR
Bismillah, pertama, alangkah baiknya jika
mengucap puji dan syukur kepada Allah S.W.T karena hanya dengan bantuan-Nya
lah, makalah ini bisa disusun sesuai waktu yang telah diharapkan dan juga
ditentukan. Shalawat serta salam pun juga harusnya kita turut haturkan kepada
Baginda Nabi besar Muhammad Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam, pun kepada
keluarganya, kepada Sahabatnya, hingga Keturunanannya, bahkan hingga ke
pewarisnya yaitu ‘Alim Ulama’..
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah
ini ialah sebagai syarat terpenuhinya tugas mata kuliah Studi al – Qur’an.
Telah diketahui oleh khalayak umum bahwa al – Qur’an tak akan pernah berhenti
dalam berbagai diskusi yang melibatkan al – Qur’an bahkan dari berbagai
aspeknya, mulai dari Asbabun Nuzulnya, hingga sampai pada tahapan tafsir.
mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangan zaman yang terus maju.
Maka dari itu, saya harap tugas dari
makalah ini bisa memberikan sebuah kisah atau sebuah penjelasan tentang
Perkembangan Bentuk Tulisan Al-Quran, mulai
dari bentuk tulisan Al-Quran, penyempurnaan tulisan Al-Quran, penentuan
sistematika penulisan atau pembagian susunan kitab Al-Quran, sampai
pencetakannya.
Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih
kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. yang bertindak sebagai dosen Studi al –
Qur’an dan asisten dosen Ibu Ati’ Nursyafa’ah yang telah bersedia untuk
memberikan pengarahan serta bimbingan untuk penyusunan makalah yang telah
dibuat ini. Terima kasih pula kepada pihak – pihak yang telah mengulurkan
bantuannya selama proses pembuatan makalah ini. Saya tetap menyadari bahwa
masih banyak kekurangan dalam penyampaian makalah ini. Karena itu semoga saran
dan kritik tetap di sampaikan untuk penyempurnaan makalah, semoga makalah ini
bisa menjadi bermanfaat.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................... 4
BAB I................................................................................. 5
1.1 Tulisan Al-Quran Pada Masa Nabi............................... 5
1.2 Penyempurnaan Tulisan dalam Al-Quran..................... 8
1.3 Pembagian Susunan Kitab Al-Quran......................... 14
1.4 Pencetakaan Al-Quran............................................... 15
BAB II............................................................................. 17
2.1 Kesimpulan................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA...................................................... 18
BAB I
1.1 Tulisan Al-Quran Pada Masa Nabi
Pada permulaan Islam bangsa Arab
adalah bangsa yang buta huruf; amat sedikit di antara mereka yang pandai
menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas, sebagai kertas yang dikenal
sekarang.
Pada zaman itu mereka memakai daun sebagai kertas yang juga disebut dengan
“Al Waraq”. Adapun kata “Alqirthas” (yang diartikan menjadi bahasa Indonesia
artinya “kertas”) yaitu benda-benda yang dipergunakan untuk ditulis, seperti
kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah tamar, tulang binatang dan
lain-lain.
Barulah pada saat umat muslim menaklukan Persia, barulah mereka baru mengetahui
adanya kertas. Orang Persia menamai kertas dengan sebutan “kaqhid” maka
dipakailah “kaqhid” ini oleh bangsa
Arab untuk menamai kertas.
Nabi Muhammad SAW sendiri adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis,
maka ia tidak mungkin menulis Al-Qu’ran seorang diri yang ia terima dari Malaikat Jibril, maka dari itu Nabi
Muhammad SAW menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi juru tulis pada saat
menulis Al-Qu’ran. Tapi apakah Nabi Muhammad SAW hanya membimbing
bacaan yang diterima dari Malaikat Jibril ataukah juga mengarahkan penulisan
Al-Qu’ran?. Belum ada
penjelasan yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW sendiri. Oleh karena itu,
banyak ulama yang berbeda pendapat tentang hal itu. Menurut Abu Bakar a l-Baqilani
dan Ibnu khaldun berpendapat bahwa bentuk tulisan dalam Mushaf Al-Qu’ran
merupakan hasil pemikiran dan pendengaran para sahabat sesuai dengan apa yang
dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat.
Tingkat pengetahuan penulisan para sahabat juga
berbeda-beda, sehingga bentuk tulisan Al-Qu’ran pun juga banyak yang menyalahi
kaedah penulisan yang baik dan benar.
Tetapi Menurut Syekh ‘Abd al-‘Aziz al
Dabbagh, Ibn al-Mubarok (Murid Syekh ‘Abd al-‘Aziz al Dabbagh), Ibnu Abi
Syaibah, al-Sy’bi, ‘Abdullah al-Baji, al-Samnani, dan sebagian besar ulama
lainnya mengatakan bahwa, Nabi Muhammad SAW bisa membaca dan menulis setelah
berungkali menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Untuk itu, Nabi Muhammad SAW
juga ikut mengarahkan bentuk penulisan Mushaf Al-Qu’ran kepada para sahabat
yang menjadi juru tulis. Di antara beberapa hadist yang memperkuat pendapat
tentang kemampuan menulis Nabi Muhammad SAW adalah sabda Nabi Muhammad SAW
kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang
menjadi juru tulis pada zaman itu. “Letakkan tempat tinta. Pegang pena
baik-baik. Luruskan huruf Ba’.
Bedakan huruf Sin. Jangan membutakan
(menutup lubang) huruf Mim. Tulislah
kata Allah dengan sebaik-baiknya,
Panjangkan kata al-Rahman. Perbaiki
kata al-Rahim. Letakkan penamu di
telinga kirimu, karena itu akan membuatmu lebih ingat.” Hadist lain yang
memperkuat adanya kemampuan Nabi Muhammad SAW dalam membaca dan menulis adalah
riwayat Imam al-Bukhari (t.t.: V:84-85: Kitab
al-Maghazi Bab ‘Umrah al-Qadla’) yang bersumber dari al-Barra’ RA.
“Tatkala Nabi Muhammad SAW hendak
melakukan kunjungan ke Mekkah pada bulan Dzul-Qa’dah, tetapi masyarakat Mekkah
tidak ingin mengizinkan Nabi Muhammad SAW untuk memasuki Mekkah. Akhirnya, Nabi
Muhammad SAW meminta perdamaian untuk bisa masuk dan tinggal di Mekkah selama
tiga hari saja. Masyarakat Mekkah pun meminta surat perjanjian jika ingin
memasuki Mekkah. Surat ini ditulis oleh para juru tulis Nabi Muhammad SAW,
“Inilah surat perdamaian yang diajukan oleh Muhammad, Utusan Allah”. Para juru
runding Mekkah berkata, “Kami tidak mau ketetapan ini. Andai kami menerima
bahwa Anda adalah utusan Allah, tentu kami tidak akan menghalangi apapun
terhadap Anda. Akan tetapi, Anda adalah putra ‘Abdullah”. “Aku adalah utusan
Allah. Aku juga Muhammad putra ‘Abdullah”. Kemudian, Nabi Muhammad SAW berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib,
“Hapuslah kata “Utusan Allah”. “Tidak” jawab ‘Ali, “Demi Allah, aku tidak mau
menghapus selamanya”. Akhirnya, Nabi Muhammad SAW mengambil surat perjanjian
itu. Nabi Muhammad SAW tidak terlalu bagus dalam menulis: “Inilah surat
perdamaian yang diajukan oleh Muhammad bin ‘Abdullah. Tidak boleh memasukkan
senjata ke dalam kota Mekkah, kecuali pedang yang masuk dalam sarungnya.
Masyarakat Mekkah tidak diperkenankan keluar bersama siapapun yang bermaksud
mengikutinya. Para sahabat Nabi Muhammad SAW tidak boleh menghalangi siapapun
yang ingin tinggal di Mekkah.”
Dari kedua pendapat yang ada di atas,
ada pendapat yang mengambil jalan tengah, yaitu: pendapat Imam ‘Izzudin ibnu
‘Abd al-Salam, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan ulama ahli hukum Islam
lainnya. Pendapat ini meyakini bentuk tulisan di Mushaf al-Qur’an sebagai hasil
pengarahan Nabi Muhammad SAW. Hanya saja, mengubah bentuk tulisan al-Qur’an untuk
mempermudah pembelajaran diperbolehkan. Alasan ini juga dianggap lemah,
mengingat tanpa adanya perubahan pun bentuk tulisan al-Qur’an masih dapat
dibaca dengan jelas. Bila Nabi Muhammad SAW dikatakan tidak bisa membaca dan
menulis sekalipun, maka Nabi Muhammad SAW tetap bisa mengarahkan penulisan al-Qur’an.
Bukankah Nabi Muhammad SAW mendapat bimbingan dari malaikat Jibril AS, baik
bacaan maupun penulisan al-Qur’an (Abu Syahbah, 1992: 309-323).
Dengan keyakinan dari pernyataan di
atas, bentuk tulisan al-Qur’an memiliki hikmah dan keistimewaan tersendiri.
Tidak sedikit bentuk penulisan dalam Mushaf al-Qur’an yang tidak sesuai dengan
kaedah bahasa Arab. Namun, hal ini justru dipandang tepat ketika huruf-hurufnya
dihitung dan dibandingkan dengan huruf-huruf yang lain. Sebagai contoh, kalimat
“Bismillahirrohmanirrohim” memiliki
19 huruf. Padahal penulisan basmalah.
Ini tidak sesuai dengan kaedah, yakni tanpa alif
setelah huruf ba’ ini bisa
dibandingkan dengan surat al-‘Alaq ayat 1 yang menyertakan huruf Alif dalam kata “Bismirobbik”. Angka 19 tersebut bisa dijadikan angka pembagi hingga
menghasilkan angka nol. Misalnya, jumlah surat dalam al-Qur’an ada 114. Jika
dibagi dengan 19 maka hasilnya 6 tanpa sisa.
1.2
Penyempurnaan Tulisan dalam Mushaf Al-Qur’an
Mushaf al-Qur’an (buku al-Qur’an
standar) yang dihasilkan oleh tim sukses pada masa pemerintahan ‘Utsman bin
‘Affan RA ditulis dengan bentuk huruf Kufi tanpa titik dan tanpa tanda bunyi.
Sulit dibedakan antara huruf Ba’, Ta’,
Tsa’, dan Nun; Jim, Ha’, dan Kho’; huruf Sin dan Syin, huruf Dal dan
Dzal; huruf Shod dan Dlod; dan sebagainya.
Penulisan huruf Kufi tersebut
berlangsung sejak masa Nabi Muhammad SAW. Para sahabat Nabi Muhammad SAW yang
menjadi juru tulis juga menuliskan ayat-ayat al-Qur’an maupun surat Nabi
Muhammad SAW dengan huruf tanpa titik dan tanpa tanda bunyi. Meskipun Nabi
Muhammad SAW tidak bisa membaca dan menulis, uniknya Nabi Muhammad SAW selalu
membimbing para sahabat yang menjadi juru tulis dalam penulisan ayat al-Qur’an,
dan bukan penulisan surat pribadinya. Salah satu juru tulis wahyu yang bernama
Mu’awiyah bin Abu Sufyan RA, pernah diarahkan oleh Nabi Muhammad SAW saat
menuliskan ayat-ayat al-Qur’an. Semua sahabat juga mencatat dan menulis wahyu
dihadapan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, catatan-catatan ini dibutuhkan
Zaid bin Tsabit RA ketika menulis kembali ayat-ayat al-Qur’an pada
lembaran-lembaran di masa Khalifah Abu Bakar ash-Siddiq RA. Bagi Zaid,
penulisan al-Qur’an sangat unik. Banyak bentuk tulisannya yang menyalahi kaedah
Bahasa Arab. Zaid bin Tsabit RA sendiri tidak menulis dengan pedoman hafalan,
melainkan berdasarkan catatan-catatan yang diketahuinya sesuai dengan
pengarahan Nabi Muhammad SAW. Diantaranya adalah surat Nabi Muhammad SAW kepada
Heraclius Raja Byzantium pada masa itu yang berisi :
“بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ
الرُّومِ: سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي
أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ
مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ ” وَ
{يَا أَهْلَ الكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ
بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا
اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ''}
Yang Artinya : “Dari Muhammad, hamba Allah dan
utusan-Nya, Kepada Heraclius, raja Romawi, keselamatan bagi yang mengikuti
petunjuk, selanjutnya Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya
Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda
berpaling (tidak menerima) maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin.
Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan)
yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah
kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak
(pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”.
Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami
adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).
Metode
penulisan Zaid bin Tsabit RA di atas sendiri juga disetujui oleh anggota tim
pembukuan dan penulisan al-Qur’an yang dibentuk oleh Khalifah ‘Utsman bin
‘Affan. Tim penulisan dan pembukuan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan juga sepakat
untuk memilih Zaid bin Tsabit RA sebagai penulis dan Sa’id bin al-‘Ash sebagai
pembaca al-Qur’an. Selain karena tulisan Zaid bin Tsabit RA sangat bagus, Zaid
bin Tsabit RA juga adalah orang yang paling memahami karakterisik tulisan dalam
al-Qur’an. Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan juga menyadari jikalau tulisan Mushaf
al-Qur’an yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit RA tidak lazim dan akan diperbaiki
oleh orang-orang Arab di kemudian hari.
Meskipun
al-Qur’an ditulis dengan huruf yang tanpa titik dan tanpa tanda baca, umat
Islam masih mampu membaca Kitab al-Qur’an, karena pengajarannya masih
menggunakan system hafalan. Di sisi lain, Mushaf al-Qur’an terus digandakan dan
dicetak ulang dengan mengikuti bentuk penulisan Zaid bin Tsabit RA. Diceritakan
bahwa pada saat perang Shiffin antara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, ‘Amr bin al-‘Ash RA dari pihak Mu’awiyah
memerintahkan para tentaranya untuk mengangkat Mushaf al-Qur’an. Saat itu ada
sekitar 500 Mushaf al-Qur’an yang diangkat oleh para tentara Mu’awiyah bin Abi
Sufyan RA sebagai tanda perdamaian dan dihentikannya perang (Ibrahim al-Ibyari,
1995:121). Peristiwa ini terjadi tujuh tahun setelah Mushaf al-Qur’an dibagikan
pada saat kepemimpinan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan RA. Dengan demikian, umat
Islam pada zaman itu mengobarkan semangat untuk menyalin dan mencetak kembali
Mushaf al-Qur’an dari kiriman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan dengan sebanyak-banyaknya.
Pengajaran
al-Qur’an pada zaman itu adalah dengan hafalan dan penyalinan dengan huruf Kufi
tanpa titik dan tanpa tanda bunyi yang berlangsung selama kurang lebih 40
tahun. Dalam waktu selama itu, tidak ada masyarakat Arab yang memiliki keberanian
untuk memberikan tanda baca, tanda titik, tanda bunyi, maupun tanda apapun
dalam Mushaf al-Qur’an.
Hal
ini terpengaruh oleh fatwa ‘Abdullah bin Mas’ud RA, salah satu sahabat Nabu
Muhammad SAW yang sekaligus pakar terkemuka al-Qur’an pada zaman itu. ‘Abdullah
bin Mas’ud berkata, “Murnikan al-Qur’an. Jangan dicampur dengan sesuatu
apapun”, Karena fatwa ini juga, para murid sahabat Nabi Muhammad SAW tidak
berani memberi pengharum (mengubah atau memberi tanda baca apapun) pada Mushaf
al-Qur’an maupun memasukkan tanda kertas di dalamnya (Shubhi Shalih, 1977:95). Pakar Kaedah bahasa Arab pada zaman itu,
Abu al-Aswad al-Duali (wafat tahun 69 H./ 688 M.), juga tidak memiliki
keberanian untuk melakukan perubahan dan pembenahan tulisan pada Mushaf al-Qur’an
meskipun, pada saat itu telah didesak oleh Ziyad bin Abihi, salah seorang
gubernur Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA.
Pada
suatu saat Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, menulis surat kepada Ziyad bin
Abihi, Gubernur Bashrah, untuk mengutus putranya yaitu, ‘Ubaidullah bin Ziyad
untuk menghadap kepada Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA. Saat ‘Ubaidullah
datang menghadap kehadapan Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, sang Khalifah
Mu’awiyah bin ABi Sufyan RA terkejut bahwasanya anak muda dari Ziyad bin Abihi
itu telah melakukan banyak sekali kesalahan ejaan dalam pembicaraanya dengan
Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA. Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan lalu
mengirim surat teguran kepada Ziyan bin Abihi atas kejadian yang terjadi
sebelumnya. Tanpa membuang-buang waktu, Ziyad bin Abihi langsung menulis kepada
pakar bahasa Arab pada waktu itu yang bernama Abu al-Aswad al-Duali yang
berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang non-Arab telah semakin banyak dan telah
merusak bahasa Arab. Maka, cobalah Anda menuliskan sesuatu yang dapat
memperbaiki bahasa Arab orang-orang itu dan membuat mereka membaca al-Qur’an
dengan benar”. Abu al-Aswad al-Duali sendiri pada mulanya menyatakan keberatan
untuk melakukan tugas yang ditawari oleh Ziyad bin Abihi tersebut. Namun, Ziyad
bin Abihi membuat sebuah ‘perangkap’ kecil untuk mendorong Abu al-Aswad
al-Duali untuk memenuhi permintaanya. Ziyad bin Abihi menyuruh seseorang untuk
menunggu di jalan yang biasa dilewati oleh Abu al-Aswad al-Duali. Lalu Ziyad
bin Abihi berpesan kepada seseroang yang disuruhnya yang berbunyi “Jika Abu
al-Aswad al-Duali lewat di jalan sekitar sini, bacalah salah satu ayat
al-Qur’an, tetapi lakukanlah kesalahan ejaan sedikit pada saat membacanya”.
Tatkala Abu al-Aswad al-Duali lewat jalan itu, seseorang yang disuruh oleh
Ziyad bin Abihi tersebut membaca Surat at-Taubah ayat 3 yang berbunyi, “Annalla-ha bari-un minal musyrikina
warosu-lihi” Ia mengganti kata “wa rosuluhu” menjadi kata “wa rosulihi”.
Dengan bacaan yang salah tersebut, maka terjemahan Surat at-Taubah ayat 3
tersebut berganti menjadi “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang
musyrik dan Rasul-Nya”. Bacaan yang seharusnya adalah :
أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ
مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ
Yang artinya: “ Bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang
yang musyrikin”
Bacaan yang “salah” itu didengarkan
oleh Abu al-Aswad al-Duali dan sangat membuatnya terpukul. “Maha Mulia Allah, tidak mungkin Allah
berlepas diri dari Rasul-Nya”, balas Abu al-Aswad al-Duali. Peristiwa ini
mendorong hati Abu al-Aswad al-Duali untuk memenuhi permintaan Ziyad bin Abihi.
Abu al-Aswad al-Duali pun menunjuk seorang pria dari suku Abd al-Qais untuk
membantu usahanya dalam hal mengajar orang-orang membaca al-Qur’an dengan baik
dan benar. Tanda pertama yang diberikan oleh Abu al-Aswad al-Duali adalah tanda
bunyi huruf. Abu al-Aswad al-Duali membaca dengan hafalannya, sementara para
stafnya memberi tanda pada Mushaf al-Qur’an yang dipegangnya dengan tinta
berwarna merah agar berbeda dengan hurufnya yang berwarna hitam. Bunyi “a”
diberi satu titik di atas huruf; bunyi “i” di bawah huruf; dan bunyi “u” di
depan huruf; dan tanda mati dengan dua titik di atas. Setiap kali usai satu
halaman, Abu al-Aswad al-Duali pun kembali memeriksan sebelum melanjutkan ke
halaman berikutnya (Kamaluddin Marzuki, 1992:82-83).
Dengan tanda bunyi tersebut,
al-Qur’an bisa dibaca oleh orang yang tidak hafal al-Qur’an. Akan tetapi, usaha
Abu al-Aswad masih terbatas dan perlu penyempurnaan lebih lanjut.
Kerangka
yang telah dibuat oleh Abu al-Aswad al-Duali akhirnya disempurnakan oleh
generasi-generasi selanjutnya. Tercatat nama-nama seperti Yahya bin Ya’mar dan
Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi, para murid Abu al-Aswad al-Duali sendiri.
1.3 Pembagian Susunan Mushaf Al-Qur’an
Pada
masa Nabi Muhammad SAW dan generasi sahabat, umat Islam banyak yang
berlomba-lomba untuk membaca Kitab al-Qur’an sebanyak-banyaknya dan
meningkatkan kemampuan masing-masing dalam hal membaca al-Qur’an. Ada yang
membagi Kitab al-Qur’an menjadi tiga puluh bagian, sehingga ia bisa
menyelesaikannya bacaan keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an hanya dalam waktu
sebulan. Ada pula yang membaginya menjadi 7, sehingga ia bisa menyelesaikan
bacaan keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an hanya dalam waktu seminggu saja.
Pada masa Khalifah ‘Abd al-Malik bin
Marwan, pemerintahannya mengeluarkan kebijakan untuk memberi tanda pembagian
pada Mushaf al-Qur’an. Al-Hajjaj bin Yusuf, pejabat yang pada waktu itu diberi
tugas untuk mengundang para penghafal al-Qur’an mengatakan, “Coba jelaskan
jumlah huruf al-Qur’an seluruhnya!!!”. Setelah dihitung bersama-sama, jumlahnya
adalah sebanyak 340 huruf. 740 lebih sedikit. “Jelaskan, pada huruf apakah yang
persis dengan pertengahan al-Qur’an!!” seru Al-Hajjaj bin Yusuf lagi. Mereka
menghitungnya kembali sehingga mencapai kesepakatan bahwa pertengahan Mushaf
al-Qur’an berakhir pada huruf “Fa’”
dari kata “Walyatalaththaf”, ayat 19
dari Surat al-Kahfi.
Akhirnya, dialog antara Al-Hajjaj
bin Yusuf dan para penghafal al-Qur’an
berkembang hingga menyimpulkan pembagian Mushaf al-Qur’an menjadi: dua bagian,
tiga bagian, hingga tujuh bagian. Pembagian ini dimaksudkan sebagai batas
bacaan untuk memberi kemudahan umat Islam dalam hal membaca Kitab suci
al-Qur’an.
1.4 Pencetakan Mushaf Al-Qur’an
Mushaf
al-Qur’an (buku al-Qur’an standar) pertama kali tidak dicetak oleh umat Islam
sendiri. Mushaf al-Qur’an pertama kali dicetak di Venezia, Italia (yang dulunya
bernama Bunduqiyyah) tahun 1530 M. Atas perintah gereja, Mushaf al-Qur’an
cetakan tersebut dimusnahkan. Selanjutnya, seorang pria Jerman yang bernama
Hinkelmann mencetak kembali Mushaf al-Qur’an di kota Hamburg pada tahun 1694 M.
Setelah itu, Muracci mencetak juga Mushaf al-Qur’an pada tahun 1698 M. Tetapi,
cetakan-cetakan tersebut sengaja tidak disiarkan di dunia Islam. Barulah pada
tahun 1787 M. Mushaf al-Qur’an dicetak di Saint Petersburg, Rusia dan
disebarluaskan di dunia Islam atas usaha Maulaya ‘Utsman. Mushaf al-Qur’an ini
juga dicetak di Kazar, Persia. Kemudian, Mushaf al-Qur’an diterbitkan lagi di
Teheran, Iran pada tahun 1828 M. Lima tahun berikutnya, yakni tahun 1833 M.
Mushaf al-Qur’an dicetak ulang di Tabriz, Iran. Pada tahun 1834 M. Flugel
mencetak kembali Mushaf al-Qur’an di Leipzig, Jerman Timur.
Cetakan Flugel ini mendapat sambutan
dan respons yang positif di Eropa, dikarenakan ejaannya baru dan sangat mudah
untuk dibaca, namun umat Islam sendiri tidak menyukai pencetakan ulang Mushaf
al-Qur’an milik Flugel tersebut. Karena kebencian mereka terhadap pihak
colonial yang dipandang sebagai orang-orang kafir. Di Istanbul, Turki. Mushaf
al-Qur’an dicetak pada tahun 1877 M. Di Kairo, Mesir. Mushaf al-Qur’an dicetak
pada tahun 1933 M, dengan pengawasan Universitas Al-Azhar dan lajnah yang
dibentuk oleh pemerintahan Raja Fuad I. Mushaf al-Qur’an yang tercetak bagus
ini disesuaikan dengan riwayat Hafsh atas bacaan ‘Ashim (Kamaluddin Marzuki,
1992:86-87).
BAB II
KESIMPULAN
Rasulullah
mengangkat beberapa orang untuk dijadikan sebagai jurutulis, diantaranya Abu
Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit dan lain-lain. Tugas mereka adalah
merekam dalam bentuk tulisan semua wahyu yang diturunkan
kepada Rasulullah. Alat yang digunakan masih sangat sederhana, seperti
: Ujung pelepah kurma (al-usb), Batu-batu tipis (al lakhaf), Kulit
binatang/ pohon (ar-riqa’), Pangkal pelepah kurma yang tebal
(al-karanif), Tulang belikat yang telah kering (al-aktaf), Kayu
tempat duduk pada unta (al-aktab) dan Tulang rusuk binatang
(al-adhla’).
Abu
al-Aswad adalah orang yang diutus oleh Ziyad bin Abihi untuk memberi tanda
baca dan tanda bunyi (Nuqath Al-I’rab) pada Al-Qur’an dan orang yang memberi
titik pada huruf (Nuqath al-I’jam) adalah Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bin
Ya’mar.
Pada
mulanya Al-Qur’an ditulis dengan huruf kufi. Akhirnya, tahun demi tahun,
bentuk-bentuk huruf tersebut telah dihadirkan kepada beberapa bentuk
tertentu saja. Hal ini dibuat bagi menetapkan jenis-jenis huruf yang dikemas
teratur, cantik dan berseni untuk diguna pakai oleh masyarakat umum.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Moh Ali. Mengenal Tuntas al – Qur’an, Surabaya : Imtiyaz,
2012.
Al – Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu – Ilmu al – Qur’an, Bogor :
Litera AntarNusa, 1992.
UIN Sunan Ampel, MKD. Bahan Ajar Studi al – Qur’an, Surabaya :
UIN Sunan Ampel Press,
2018.
Abidin, Zainal. Seluk Beluk al – Qur’an, Jakarta :
Rineka Cipta, 1992.
Al Ibyariy, Ibrahim. Pengenalan Sejarah al – Qur’an, Jakarta
: RajaGrafindo
Persada, 1995.
Nata, Abdullah. Al – Qur’an dan Hadits, Jakarta : RajaGrafido
Persada, 1995.
Shiddieqy, Hasbi Ash. Sejarah dan Pengantar Ilmu al – Qur’an
/Tafsir, Jakarta : NV
Bulan Bintang, 1992.
Thabathaba’i, Sayyid Muhammad
Husein. Mengungkap Rahasia al – Qur’an, Bandung
: Mizan, 1997.
Amal, Taufik Adnan. Rekonstruksi Sejarah al – Qur’an,
Tangerang Selatan : Pustaka Alvabet,
2013.

MasyaAllah semoga bermanfaat bagi yang membaca dan mengalirkan pahala
BalasHapusجيد جدا ... نأمل أن تنتج أعمالا كتابية جيدة وصحيحة. انتظار الورقة التالية ...
BalasHapusAlhamdulillah semoga dari makalah ini saya dan pembaca lainnya mendapatkan manfaat Aamin.
BalasHapusSebelumnya terimakasih atas ilmunya, seboga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.
BalasHapusMakalah bagus sekali kak,semoga bermanfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pembaca aminnnn
BalasHapusalhamdulillah makalah ini sangat menambah wawasan pengetahuan saya, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi
BalasHapusAlhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya untuk pembelajaran kita
BalasHapusWhat a great job bro ✊,, I apreciate it,, wish U luck next time,,
BalasHapusAlhamdulillah bisa menambah pengetahuan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita
BalasHapusMantap sangat membantu
BalasHapusآمل أن يكون المقال مفيدًا ، وآمل أن يكون أولئك الذين يقرأون قد حصلوا على المعرفة ، قد وصلوا إلى المقالة المثالية
BalasHapusTerimakasih kak isi blognya sangat bermanfaat dan menarik sekali untuk dibaca
BalasHapusSangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak
BalasHapusbermanfaat sekali isi dari blognya kak alhamdulillahhh menambah ilmu. semangat kak👍🏼
BalasHapusiya siyappp kak😂
HapusAlhamdulillah, makalah ini bermanfaat , semakin menambah pengetahuan kita, terimakasih kak
BalasHapussangat bermanfaat kak, smoga tetap slalu membagikan ilmu seperti ini, semangat
BalasHapusSubhanallah... sangat bermanfaat sekali:)
BalasHapusSubhanallah... sangat bermanfaat sekali:)
BalasHapuswah, sangat bermanfaat sekali kak. sy bisa lbh mengerti tentang perkembangan Al-Quran. terima kasih sudah membantu saya untuk lebih mengerti :)
BalasHapusAlhamdulillah, bermanfaat sekali ilmunya kak. Terima kasih banyakkk :)
BalasHapusalhamdulillah karena makalah yg sudah dibuat ahada ini saya jadi lebih mengerti tentang perkembangan Al-Qur'an. sangat membantu
BalasHapussubhanaallah masyaallah makalahnyaa sangat membantuu materinya juugaa mudah diapahami semoga kedepannya makin baik lagi aamiin aamiin
BalasHapusbagus sekali thanx to upload,semoga bermanfaat bagi saya dan yang membaca
BalasHapussangat menarik pembahasan mas ahd semoga sukses mas uhuk uhuk
BalasHapusalhamdulillah terima kasih sudah membagikan ilmunya, semoga bermanfaat bagi kita semua aamiin
BalasHapusAlhamdulillah, terimakasih telah membagi ilmunyanya, semoga dengan ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi kita semua dan sebagai ladang amal bagi penulis nya.. Aamiin
BalasHapusTerimakasih sudah membagi ilmunya, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Aamin
BalasHapusAlhamdulillah, ilmunya bermanfaat bagi orang banyak, semoga materinya dilakukan dan diterapkan di kehidupan sehari-hari 🙏
BalasHapusAlhamdulillah dengan artikel ini bertambah ilmu dan wawasan saya mengenai Al-Qur'an
BalasHapusTerimakasih sekali artikel ini sangat membantu dalam menjawab pertanyaan yang terlintas dikepala saya👍
BalasHapusLelas sembuh dari batuknya mas ahada, materi makalah nya bagus bahasa bisa dipahami, saya suka saya suka.
BalasHapusMantap mas sangar, dikurangin sambatnya ya
BalasHapusTerima kasih ya mas, kini saya sudah tau. Lebih sering lagi sharing ilmu ya ��
BalasHapusMasyaallah, barakaallah mas Ahada setelah membaca blog ini saya lebih mengerti ttg Al-Qur'an dan sangat informatif.
BalasHapusMasyaallahh bagus sekali artikel nya, semoga bermanfaat:))
BalasHapusSemoga menjadi ladang pahala bagi penulis karena telah membagi ilmunya melalui artikel ini aamiin
BalasHapusTerimakasih sudah membagi ilmunya, saya mendapat wawasan dan semoga dapat bermanfaat bagi pembaca lainnya.
BalasHapusterima kasih uinsa telah merubah teman saya
BalasHapusSemoga ilmunya manfaat, dan membawa berkah bagi pembaca maupun penulis
BalasHapusAlhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya untuk pembelajaran kita
BalasHapus#bersatutidakambyar
Alhamdulillah bagus artikelnya. Semoga bisa bermanfaat, aamiin
BalasHapusBagus sekali keren bermanfaat guna untuk bangsa dan negara
BalasHapusAlhamdulillah, setelah membaca artikel ini jadi lebih tau bagaimana perkembangan bentuk tulisan pada Al-Qur'an. semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang dan membuat para pembacanya lebih mencintai Al-Qur'an, Aamiin. semangattt!
BalasHapusSangat membantu saya tentang pembahasan ini. Saya suka semoga bermanfaat bagi semua pembaca dan pembuat
BalasHapusYa, tulisannya bagus, baik, bermanfaat, bermutu, hebat, dibuat dengan pemikiran yang luar biasa. Saya harap bisa dilanjutkan dan dikembangkan
BalasHapusMa shaa Allah makalah ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan semoga kedepannya lebih sering mengunggah materi pembelajaran yang lain
BalasHapusTerimakasih sudah membagi ilmunya, dengan artikel ini bertambah ilmu dan wawasan saya mengenai Al-Qur'an.
BalasHapusTerimakasih sudah membagi ilmunya, dengan artikel ini bertambah ilmu dan wawasan saya mengenai Al-Qur'an.
BalasHapusSangat bagus, bermanfaat. Ternyata al-Qur'an tidak langsung ditulis di atas kertas ya, terima kasih ilmunya kakak, terus menulis.
BalasHapus
BalasHapusSangat bagus, bermanfaat. Menambah wawasan ternyata al-Qur'an tidak langsung ditulis di atas kertas ya, terima kasih atas informasinya kak
terima kasih, semoga ilmunya dapat bermanfaat untuk kita semua
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus